Saya benci musim hujan
Saya suka musim hujan
Saya benci perasaan yang selalu menggelung di hati ketika hujan
Saya suka bebauan alam yang keluar ketika hujan mengguyur tanah ini
Saya benci keadaan badan ini yang membuat saya tidak bisa pergi dari dunia mimpi
Saya suka keadaan ketika hujan yang sangat mendukung untuk menyinggahi dunia mimpi
Saya benci keadaan emosi saya yang mayoritas pasti terpengaruh ketika hujan
Saya suka keadaan fisik orang-orang yang akan mulai merapat dan bergelung ketika hujan
Saya benci banyaknya noda percikan air jalanan pada baju dan meyebabkan kesan kotor
Saya suka banyaknya genangan air di tanah
Saya benci musim hujan yang menyebabkan semua orang diam dirumah dan berkumpul bersama
Saya suka musim hujan yang menyebabkan hangatnya suasana rumah
Saya benci
February 19, 2012
Saya
Saya ingin bisa seperti manusia-manusia diluar sana yang bisa mengungkapkan perasaan dan pemikiran mereka di media apapun. melalui suara, tulisan, gambar, dan apapun itu. itu adalah mimpi saya sedari kecil, untuk bisa mengungkapkan suara-suara yang ada di otak dan hati saya secara gamblang dan semua orang pun mengerti akan maksud saya.
Delapan puluh persen dari semua masalah yang saya dapatkan dikarenakan kesulitan berkomunikasi. Kesulitan akan pemilihan kata dan perangkaian kata yang menyebabkan lawan bicara saya merasa bingung, sakit hati, merasa tidak dihargai, dan lainnya. Berkali-kali saya bertengkar dengan orang tua saya, khususnya ibu saya, dikarenakan perangkaian kata saya yang buruk. Itu menyakitkan bagi saya. Dikala saya berusaha keras bagaimana penyampaian yang baik untuk orang lain agar mudah untuk dicerna tetapi lawan bicara mengangap bahwa saya diam tidak ingin bicara. Apakah saya harus memberitahu mereka semua yang saya lakukan? Tentu tidak. Apabila saya melakukan hal itu saya akan seperti orang bodoh.
Saya lebih memilih untuk diam apabila saya tidak bisa mengungkapkan apa yang ada di hati saya. Saya ingin mereka tahu tetapi saya tidak bisa mengeluarkannya. Saya pernah mengeluarkan isi hati saya dengan menyuarakannya dengan cara saya sendiri, dan hasil akhirnya adalah saya ditampar, ditendang, dipukul. Mungkin mereka tidak akan ingat pernah melakukan hal itu kepada saya dan akan menyanggahnya. Saya pun tidak perduli sebenarnya karena itu adalah hal yang lalu. Saya tidak perduli akan siapa yang memukul saya, yang saya pedulikan adalah mengapa saya dipukul?
Dulu saya adalah orang yang bisa menyuarakan apa yang ada di otak dan hati saya dan ketika menerima perlakuan fisik yang menyakiti saya saya tidak pernah perduli, beberapa tahun yang lalu, ketika saya tidak pernah memikirkan apapun kecuali hidup ibu saya, hidup saya sendiri pun saya tidak perduli. tetapi ketika umur bertambah dan mau tak mau saya harus mulai memikirkan sekitar saya untuk diri saya sendiri, saya baru menyadari saya tidak bisa berlaku seperti itu lagi dan harus mulai memikirkan segala konsekuensinya.
Saya ingin berteriak! Dimana? Dikamar? Bila saya melakukan hal ini keluarga saya akan langsung menggebrak pintu kamar saya dan menemukan saya sedang menangis mengetik post ini. Sedari dulu saya tak pernah perduli akan kesehatan fisik saya, sejujurnya saya suka rasa sakit. Karena ketika rasa sakit itu terasa semua pemikiran dan perasaan ini akan sedikit terlupakan.
Saya frustasi akan diri saya sendiri. Saya kesal. Saya marah. Saya ingin menyakiti diri saya sendiri. Menghukum diri saya sendiri.
Delapan puluh persen dari semua masalah yang saya dapatkan dikarenakan kesulitan berkomunikasi. Kesulitan akan pemilihan kata dan perangkaian kata yang menyebabkan lawan bicara saya merasa bingung, sakit hati, merasa tidak dihargai, dan lainnya. Berkali-kali saya bertengkar dengan orang tua saya, khususnya ibu saya, dikarenakan perangkaian kata saya yang buruk. Itu menyakitkan bagi saya. Dikala saya berusaha keras bagaimana penyampaian yang baik untuk orang lain agar mudah untuk dicerna tetapi lawan bicara mengangap bahwa saya diam tidak ingin bicara. Apakah saya harus memberitahu mereka semua yang saya lakukan? Tentu tidak. Apabila saya melakukan hal itu saya akan seperti orang bodoh.
Saya lebih memilih untuk diam apabila saya tidak bisa mengungkapkan apa yang ada di hati saya. Saya ingin mereka tahu tetapi saya tidak bisa mengeluarkannya. Saya pernah mengeluarkan isi hati saya dengan menyuarakannya dengan cara saya sendiri, dan hasil akhirnya adalah saya ditampar, ditendang, dipukul. Mungkin mereka tidak akan ingat pernah melakukan hal itu kepada saya dan akan menyanggahnya. Saya pun tidak perduli sebenarnya karena itu adalah hal yang lalu. Saya tidak perduli akan siapa yang memukul saya, yang saya pedulikan adalah mengapa saya dipukul?
Dulu saya adalah orang yang bisa menyuarakan apa yang ada di otak dan hati saya dan ketika menerima perlakuan fisik yang menyakiti saya saya tidak pernah perduli, beberapa tahun yang lalu, ketika saya tidak pernah memikirkan apapun kecuali hidup ibu saya, hidup saya sendiri pun saya tidak perduli. tetapi ketika umur bertambah dan mau tak mau saya harus mulai memikirkan sekitar saya untuk diri saya sendiri, saya baru menyadari saya tidak bisa berlaku seperti itu lagi dan harus mulai memikirkan segala konsekuensinya.
Saya ingin berteriak! Dimana? Dikamar? Bila saya melakukan hal ini keluarga saya akan langsung menggebrak pintu kamar saya dan menemukan saya sedang menangis mengetik post ini. Sedari dulu saya tak pernah perduli akan kesehatan fisik saya, sejujurnya saya suka rasa sakit. Karena ketika rasa sakit itu terasa semua pemikiran dan perasaan ini akan sedikit terlupakan.
Saya frustasi akan diri saya sendiri. Saya kesal. Saya marah. Saya ingin menyakiti diri saya sendiri. Menghukum diri saya sendiri.
Subscribe to:
Posts (Atom)